NAIK KELAS APAKAH MASIH PERLU?

MASIHKAN PERLU SISTEM KENAIKAN KELAS ?

 

Muhammad Thamrin Hidayat

 

Di Perguruan Tinggi (PT) tidak pernah mahasiswa tidak naik kelas, waktu studimolor itu sudah lumrah. Ujian akhir beberapa mata kuliah apakah ada? Juga tidak ada seluruh mata kuliah diujikan pada tahun akhir kuliah. Kalau itu dilaksanakan pastilah mahasiswa akan sangat banyak tidak lulus. Mata kuliah yang sudah lulus tidak pernah diujikan kembali. Walaupun mereka sudah lupa akan materi yang mereka pernah lalui. Ujian akhir diganti dengan apa? Ya ujian komprehensip  hasil laporan atau hasil penelitian. Bahan ujianya tidak mendalam seperti di tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun di Sekolah Menengah Atas (SMA)/Kejuran (SMK). Bagaimana dengan matakuliah yang lalu? Sudah lulus dan nilai sudah ada dalam transkrip, jadi tidak perlu mengulang lagi. Mengapa harus mengulang kembali kan sudah tuntas (masterylearning), bagi yang dapat nilai C, B, dan A. Mengapa di tingkat SD, SMP, dan SMA/K tidak demikian adanya?. Apabedanya bila dikatakan mengikuti pendekatan mastery learning?

Di Negeri ini pernah memiliki proyek perintis untuk  mengembangkan kurikulum di Indonesia. Proyek itu disebut dengan Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP). Di Indonesia PPSP ada di delapan (8) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) atau Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang sekarang menjadi Universitas, seperti Universitas Negeri Surabaya (UNESA dulu masih IKIP). Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan sistem modul. Modul memiliki beberapa komponen yaitu: Lembar Kegiatan Siswa, Lembar Kerja Siswa (LKS), Kunci Lembar Kerja Siswa, Lembar Tes, Kunci Lembar Tes, Lembar Remidial. Dengan modul siswa mengerjakan LKS, apabila LKS sudah selesai siswa langsung minta untuk tes materi yang ada di dalam Lembaran Kegiatan Siswa. Permintaan  tes dilakukan siswa sendiri dengan kesadaran bahwa dirinya telah siap untuk menguji dirinya sendiri atas penguasaan materi yang telah dipelajari. Tidak ada sedikitpun paksaan dari guru untuk melakukan tes. Dengan demikian siswa telah merefleksi diri atas kemampunnya. Apabila telah tuntas dengan materi yang siswa pelajari, maka siswa akan pindah pada materi berikutnya. Demikian seterusnya hingga materi kelas yang siswa tempati selesai semua. Untuk pindah ke kelas yang lebih tinggi siswa bersangkutan melakukan tes yang disebut suamatif  tes. Inipun dilakukan sendiri-sendiri, apabila maju berkelanjutan tidak terbatas. Disinilah dapat diketahui siswa yang cepat, sedang, atau lambat belajarnya. Bila siswa cepat menyelesaikan materi pada jenjang tersebut, maka sebelum waktu yang ditentukan oleh kurikulum siswa dapat pindah ke jenjang lebih tinggi tidak perlu menunggu kenaikan kelas. Dengan demikian siswa dapat menyelesaikan sekolah yang harusnya ditempuh enam semester dapat ditempuh dalam lima bahkan empat semester. Sedangkan siswa yang kelompok sedang maka belajarnya dapat ditempuh dalam enam semester sesuai dengan porsi kurikulum untuk kelompok sedang, bahkan siswa yang lambat belajarnya dapat ditempuhnya tujuh atau delapan semester. Hal ini disadari oleh siswa sendiri, bahwa mereka harus tinggal menunggu waktu  saja kapan dia akan menempuh lima semester atau tujuh semester. Dengan model pembelajaran maju berkelanjutan seperti ini tidak ada siswa yang tinggal kelas, tetapi hanya mereka belum selesai mengerjakan topik yang harus mereka lakukan.

Bila sistem tersebut ditrapkan maka tidak ada siswa atau orang tua setiap tahun yang was-was anaknya tidak naik kelas. Di sini siswa (masyarakat) diajari untuk mawas diri akan dirinya, yang mau belajar dengan tekun akan cepat selesai jenjang yang ditempuhnya, sedangkan  akan lambat atau kurang tekun dalam belajarnya akan lama menyelesaikan waktu sekolahnya. Implikasinya penerapan pembelajaran yang demikian akan terjadi siswa yang sudah selesai lebih cepat satu semester akan kesulitan untuk mengikuti ujian nasional. Karena ujian nasional ada pada semester genap. Kalau pembelajaran di atas ditrapkan pada prinsipnya Pendidikan Dasar-Menengah harus menyiapkan waktu ujian ditiap semester.Dengan demikian tidak perlu ada siswa yang tinggal kelas, dengan demikian kita bersama menjaga psikologis siswa yang selalu tertekan sewaktu pergantian tahun apakah naik kelas atau tidak. Semoga hal ini menjadi renungan Pendidikan Dasar dan Menegah ke depan.

CURIKULUM VITAE

Nama             : DR. Muhammad Thamrin Hidayat,Drs., M.Kes

Alamat          : PepeLegi Indah Waru Sidoarjo Jawa Timur

Pekerjaan    : 1. Dosen Pasca Sarjana Sain UNESA

                         2. Dosen PGSD-UNUSA

                         3.  Kepala Sekolah SMP Labschool UNESA Ketintang Sby

                        

 


48 Pembaca    |    0 Komentator
Share :
Tag : NAIK KELAS

Kirim Pesan Anda